01 Januari 2018

Media Sosial Semenganggu Tulisan ini

Agung Prasetyo

Terperangkap dalam media sosial seakan menjadi suatu kaharusan. Mau tak mau dizaman serba cepat ini informasi menjadi barang paling diincar bahkan mungkin lebih berharga dari mas. Teknologi informasi menghadirkan sederet media sosial yang menyeret manusia untuk kerbuang didalamnya. Media sosial ini begitu mengusik pikiran, seakan ada magnet yang begitu kuat untuk terus membukanya. 

Resahnya hati saya ketika menyanding media sosial. Hape sudah terinstal beberapa media sosial. Sekalipun saya log out atau bahkan uninstal media sosial tersebut karena beberapa alasan, tetap saja harus membukanya secara berkala. Media sosial ini begitu punya daya tarik yang mengharuskan pribadi yang hidup diera modern mengikutinya. 

Kenapa harus punya media sosial

Katakanlah WA, ya media ini diasumsikan paling fleksibel dan paling cepat, informasi dengan cepat tersampaikan menggeser SMS, lalu adanya group yang mampu mengakomodir percakapan dari beberpa orang sekaligus dan segudang kelebihan lainya. WA seakan menjadi aplikasi wajib. Nah kalau gak punya WA seakan - akan tertinggal banget dari peradaban. Bagaimana tida begitu cepatnya informasi dari suatu komunitas disebarkan di group untuk memangkat koordinasi fisik, begitu signifikan bukan. 

Lain WA lain FB dan IG. Walau tidak secepat WA, FB dan IG punya tempat tersendiri di hati masyarkat. FB sendiri bisa mewakili perasan bahkan untuk menyimpan foto, terlebih foto teman - teman pada suatu komunitas yang sama. Saya berfikir dari pada saya membuat blog yang masih asing bagi pengguna awam, lebih baik pakai Facebook saja lah supaya setiap anggota group bisa pubish sendiri, jadi tidak perlu repot mengumpulkan dan mengunggahnya. Lanjut ke IG, sekedar berdalih tida mau ketinggalan dengan teman hingga teman baru ya ahkirnya dibuatlah IG tersebut. Alasan lainya adalah ya karena memang IG lagi tenar- tenarnya jadi powerful banget untuk promosi. 

Konsekuensi media sosial

Layaknya interaksi sosial, hadirnya media sosial di Hp juga mendorong kita untuk terlibat dalam interaksi didalamnya. Katakan WA, demi menghormati dan menjaga group WA biasanya saya tetap memberikan timplan, itulah mengapa notifikasi di Hpe saya bersih. Saya merasa perlu andil sebagai bentuk konsistensi sosial. Pada FB saya biasanya update jika ada gambar atau kegiatan terbaru, sedangkan untuk update secara berkala baik untuk promosi maupun untuk membalas dan memberikan komentar.

Aktivitas ini lah yang begitu mengganggu. Tidak dipungkiri memang, kita begitu dimudahkan dalam banyak aspek akan tetapi disilain hadirnya media sosial ini sangat mengganggu karena sedikit - sedikit haru cek hape. Saya sih sudah coba untuk masa bodo dalam beberapa menit seperti sampai detik ini belum bisa. 

Belum bisa disini bukan secara fisik, tetapi lebih pada tangungjawab secara psikologi sebagai mahluk sosial, konsistensi, dan kebutuhan marketing. Saya tidak bisa katakan hal ini sebagai kecanduan media sosial, tapi lebih pada mengapa kita harus menggunakanya. Resahnya pikiran saya menghadapi fenomena media sosial ini menimbulkan keresahan pemikiran yang akhirnya menjadi keresahan tulisan ini. 

Apa kamu mengalami hal yang serupa? 

0 comments:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar