17 Mei 2018

Mengapa Pembayaran Pajak kendaraan tidak sepraktis Kereta

Agung Prasetyo

Ditengah masifnya transaksi daring, ternyata masih ada saja yang tetap yang manual. Beberapa tahun terakhir teknologi membajiri umat manusia, tahun 2014 ketika android mulai masuk seakan tata cara manusia memenuhi kebutuhan ikut berubah. Semua menjadi serba praktis dan mudah, maka sejumlah perusahaan, bumn, hingga instansi pun mulai melakukan pembenahan diri.

Kita tahu, sekarang begitu mudahnya membeli tiket kreta api. Masih boleh sih beli di stasiun, tetapi pengguna jasa transportasi masal ini kini dapat membeli di mini market, penjual tiket, hingga daring. Cukup ngantri bentar sudah bisa beli tiket di Alfa, bisa juga datang ke agen – agen tiket yang ada di sudut – sudut kota. Kini bahkan lebih mudah lagi, cukup kunjungi situs tertentu atau buka aplikasi tertentu sudah bisa tu beli tiket. 

Bukan hanya cara membelinya, tetapi sarana dan prasana perkretaapian pun sudah diperbaiki. Lahirnya kereta ekonimi AC menyusul Bogowonto waktu itu. Lalu ada tatanan statisun yang sangat  rapi dan bersih. Hampir disetiap lini benar- benar tervolusi, terlepas dari satu dua kaya Pramekes.
Ini baru, Kereta belum lagi, pembayaran leasing, listrik, tiket wisata, pertujunjkan, umroh, hingga bus dan travel lebih responsive. Akan tetapi ternyata hal ini belum berlaku untuk pembayaran pajak kendaraan. 

Ya memang sih sudah ada embel – embel pembayaran online. Sering lihat kan “Drive True Online” gitu. Online sih online, tapikan yang online sononya, kita mah tetap aja datang ke lokasi. Belum lagi kalau salah satu Samsat, harus ngantri dan menunjukan syarat ini itu yang harus difoto copy. Agak mudahnya pas ada Samsat kelilling, tapi kan itu ngantri duh ya. Pernah juga nyoba yang drive true, ealah tetap saja gak drive, kumpulin terus nunggu dech. 

Tentu dengan sistem kaya gini bagi khayalak tetap saja disebut offline, la wong tetap harus ke lokasi dan ngantri. Terlepas dari persyaratan yang harus cukup memadahi dan lengkap untuk penanggulangan pencurian, tetap saja dikakatan kurang praktis. Biarlah menjadi PR bagaimanya. Bisa saja divalidasi oleh pihak penerima atau scan dokumen. Saya rasa masih ada solusi lainya yang lebih cemerlang. 

Bisa saja kan pembayaran yang diswastakan, terus jika ingin mencetak tinggal ke kantor yang bersangkutan. Hal ini tentu akan sangat memangkas waktu. Kaya pemesanan kereta, cukup bayar di salah satu outlet lalu saat mau berangkat tinggal cetak dengan ketik kode atau scan. Sangat praktis dan cepat. 

Dizaman yang serba mobile, masyarkat mengingkan sesuatu berjalan dengan cepat dan praktis. Pasalnya sudah ada tekonologi yang mendukung. Sesuatu yang tadinya bersfiat fisik bisa ditransfer menjadi bentuk digital, karena ditigalisasi adalah kunci mengukuti perkembangan teknologi. Bukan tidak mungkin jika listrik saja bisa berganti menjadi pulsa. 

0 comments:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar